Profil Singkat Uwe Erkenbrecher – Pelatih Cendrawasih Papua


Tidak semua orang memasuki lingkungan baru dengan mudah. Tapi, Uwe Erkenbrecher menjawab tantangan lingkungan baru itu dengan mem-besut Cendrawasih Papua.

Melatih tim sepak bola di tanah Papua tidak pernah terlintas di pikiran Ewe. Namun, nasib temyata menggiringnya ke Bumi Cendrawasih tersebut. Karir di Indonesia pula yang akhirnya membawanya berkeliling Nusantara menghadapi tim kontestan Liga Primer Indonesia (LPI), termasuk Persebaya 1927 (27/2). Sekilas, gaya kepelatihan Uwe tampak keras. Dia tak segan berteriak dan menggunakan isyarat tubuhnya untuk menujukkan ekspresi kemarahan atau penghargaan kepada anak asuhnya. Sejumlah ofisial tim Cendrawasih juga mengakui bahwa Uwe cukup keras menghadapi anak asuhnya. Tapi, sebagai pelatih asal Eropa, Uwe tergolong pelatih yang berani.

Setidaknya, dia berani menatap karir dan masa depannya pada sebuah tim yang baru terbentuk. Termasuk terhadap materi pemain minim pengalaman, plus tidak menguasai bahasa Inggris yang biasa digunakannya. Padahal, Uwe juga tidak bisa berbahasa Indonesia karena ini kali pertama dia melatih di Indonesia Sebenarnya, sejumlah pengurus Cendrawasih biasa berkomunikasi dengan Uwe di luar lapangan.

Tapi, soal teknik di lapangan, Uwe merasa sendirian. “Karena pertama melatih (Cendrawasih Papua) saya seperti sendirian. Menghadapi pemain-pemain junior minim pengalaman dan tidak bisa bahasa Inggris,” kata Uwe.

Namun, dia tetap memaksakan diri “mengoceh” di setiap latihan dengan bahasa Inggris. Harapannya, isyarat atau bahasa sepak bola bisa dimengerti para pemain. Karena itu, Uwe baru didampingi penerjemah ketika menyampaikan materi dalam pertemuan di luar lapangan.

Tapi, di dalam latihan, Uwe tak butuh penerjemah. Meski demikian, jasa kepelatihannyadiakui bermanfaat. Terbukti para pemain Cendrawasih mampu menahan imbang tim tangguh Persebaya 1927 dengan materi pemain yang jauh lebih mumpuni.

Atas hasil keberhasilan timnya menahan imbang Persebaya, Uwe menyatakan cukup bangga. “Saya gembira dengan suasana stadion yang begitu semarak,” jelasnya. Tapi, itu bukan target Uwe dalam masa kepelatihannya bersama Cendrawasih. “Dibandingkan dengan tim-tim seperti Persebaya yang ada sejak lama, tim kami sebenarnya belum siap. Saya menargetkan tim ini benar-benar siap dalam setahun ke depan,” terang pria kelahiran 1954 tersebut.

Di musim pertama LPI, mantan pelatih FC Carl Zeiss Jena, kontestan Liga ID Jerman, itu hanya menargetkan timnya bermain normal. Tapi, diajuga menyebutkerja keras sebagai bagian dari kebiasaan Yance Yowey dkk.

Di sisi lain, manajer Cendrawasih Papua Benny Jen Senem mengakui bahwa gambaran tim sebenarnya belum jelas ketika Uwe hadir di Papua. ” Sebelum Uwe datang, kami hanya mengadakan latihan yang bisa diikuti siapa saja. Tapi, kami membidik pemain-pemain Divisi lil dan SSB,” tegasnya

Roda persiapan Cendrawasih Papua dikatakan baru benar-benar berjalan pada 26 Desember 2010 yang sekaligus diputuskan sebagai tanggal berdirinya tim tersebut. Latihan persiapan tim akhirnya berujung pada pemilihan pemain yang dilakukan Uwe pada 27 Desember.

Setelah memilih pemain lokal, dia berburu beberapa pemain asing melalui relasinya dan internet. Dari situlah, lanjut Benny, Cendrawasih mendapatkan legiun asing. Salah satunya Fred Agius, pemain berkebangsaan Australia keturunan Aborigin. “Agius bisa bermain di posisi gelandang maupun bek kiri,” terangnya.

source : bataviase, wikipedia, transfermarkt.co.uk
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: