Supriyono, Mendapat Kontrak Terbesar di PSM Makassar


SELAMA 13 tahun kariernya di persepakbolaan Indonesia, Supriyono, 29, sudah berpindah dari beberapa klub sepak bola yang ada di Tanah Air ini. Setidaknya, tujuh klub yang sudah dibelanya selama karier pria kelahiran Semarang 10 Agustus 1981 ini, dengan memulai debut di Persatuan Sepakbola Indonesia Semarang (PSIS) junior 1989 silam.

Supriyono bergabung di PSM pada Liga Super Indonesia (LSI) musim 2010. Tapi karena PSM hengkang dari LSI dan sekarang melakoni Liga Primer Indonesia (LPI), ia banyak pertimbangan dan butuh waktu lebih lama berpikir dibanding rekan lainnya yang tanpa basa-basi bergabung di LPI.

“Saya butuh waktu lebih dan meminta pertimbangan tidak hanya dari rekan, tapi juga keluarga untuk memutuskan apa tetap di PSM atau harus hengkang. Tapi, karena banyak pertimbangan, di antaranya karier sepak bola, kemudian saya tetap memilih tetap di PSM,” jelasnya.

Bersama tiga rekan lain dari PSM, Hendra Ridwan yang kini membela Arema, Faturrahman kini di Persisam, dan Djayusman Triadi yang membela Mitra Kukar, Supriyono juga berencana pindah. Tapi kemudian, karena merasa puncak kariernya sudah lewat, tetap memilih di PSM. Butuh waktu tiga bulan menurutnya untuk mengambil keputusan.

Akhirnya, di PSM, Supriyono menjadi pemain terakhir yang menandatangani kontrak bergabung di LPI dan juga dengan nilai kontrak paling besar sebagai pemain lokal di tim Ramang junior ini dengan nilai kontrak Rp722,5 juta untuk satu musim. Artinya, untuk dua musim berlaga di PSM, dia dikontrak dengan nilai Rp1,445 miliar.

Terkait masa kontrak yang cukup tinggi dan menyamai nilai kontrak beberapa pemain asing, Supriyono enggan berkomentar. Tapi menurutnya, wajar jika nilai kontraknya besar. Pasalnya, di LPI, tiap pemain dikontrak langsung dua musim.

“Masalah kontrak dan gaji kan urusan pribadi. Tapi kalau masalah besar tidaknya, nilai kontrak kali ini lebih besar dari kontrak-kontrak sebelumnya di LSI.
Tapi tidak perlulah dibicarakan. Tentunya juga ada alasan khusus manajemen mau memberikan nilai kontrak terhadap pemainnya. Bisa jadi karena kualitasnya yang baik atau ada pertimbangan lain,” terangnya.

Kurang menyatu

Dari tujuh klub yang pernah dan sedang dibelanya, ayah dua anak yang semuanya perempuan ini mengaku merasa puncak kariernya pada 2002 hingga 2008. Saat itu dia membela tiga klub berbeda, yaitu PSMS Medan, Persikota, dan Persita, masing-masing dua tahun berturut-turut. Saat itu pulalah dia memperkuat tim nasional Indonesia di ajang internasional.

“Saya sudah setahun di Makassar, jika boleh jujur, hingga saat ini saya belum menemukan permainan terbaik dari tim yang saya bela ini. Mungkin karena kualitas pemain yang berbeda dan atmosfer pertandingan yang baru sehingga perasaan saya masih kurang menyatu baik dengan sesama anggota tim, pelatih, maupun pertandingan yang berlangsung,” ungkap suami Pipit Nurliah ini.

Terkait belum ditemukannya permainan terbaik PSM di LPI, pria kelahiran Semarang ini mengatakan mungkin ini semua terjadi karena LPI adalah liga yang masih hijau jika dibandingkan dengan LSI.

Tidak hanya itu, bukan hanya karena liga yang baru, manajemen berubah, para pemain baru, serta lawan-lawan pun baru. Tetapi, menurutnya, itu adalah tantangan. Jika ingin maju dan lebih baik, memang harus melewati ujian.

Saat ini, pemain yang berada di posisi bek kanan dengan tinggi 169 cm, berat 63 kg, dan menggunakan nomor punggung 21 tersebut menuturkan PSM sekarang memiliki pemain dengan kualitas yang baik, hanya saja, belum bisa menyatu. Suasana kekeluargaan masih kurang, antara pemain satu dan pemain lain harus lebih dekat lagi agar bisa sehati sehingga di lapangan bisa mengerti kemauan satu sama lain, demikian pula dengan pelatih.

“Wim (Wilhelminus Gerardus J) pelatih asal Belanda yang baru bergabung di PSM beberapa bulan terakhir ini menurut saya bagus. Hanya saja, apa yang dia mau dan pemain mau belum bisa menyatu. Bisa jadi karena baru. Tapi ia yakin, jika sudah bisa melatih satu musim, tim ini akan baik di tangannya. Kemarahan yang selalu dilontarkannya bukan untuk kejelekan pemain, tapi untuk kepentingan tim,” tegas pria yang terlihat sederhana dan berkulit sawo matang ini.

source : mediaindonesia
Iklan

Satu Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum…
    Sangat bermanfaat wacanan anda…
    Silahkan kunjungi blog saya
    http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/
    kasih komentar dan saran ya…
    Terimakasih…
    Wassalamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: